Beranda/bug bounty
bug bounty

Mahasiswa Indonesia Raih Puluhan Juta Rupiah dari Bug Bounty Claude AI

Muhamad Arga Reksapati, mahasiswa Teknik Informatika UTB, berhasil menemukan kerentanan berisiko tinggi pada sistem Claude AI dan memperoleh penghargaan US$3.700 dari Anthropic.

Bagus Lindu Pamungkas
Bagus Lindu Pamungkas
Tim Merdeka Siber
23 Juli 2026
3 menit baca · 74 dibaca
Mahasiswa Indonesia Raih Puluhan Juta Rupiah dari Bug Bounty Claude AI

Mahasiswa Indonesia Raih Puluhan Juta Rupiah dari Bug Bounty Claude AI

Talenta muda Indonesia kembali menorehkan prestasi gemilang di kancah keamanan siber global. Muhamad Arga Reksapati, seorang mahasiswa Teknik Informatika dari Universitas Teknologi Bandung (UTB), berhasil menemukan celah keamanan yang signifikan pada sistem kecerdasan buatan Claude AI, yang dikembangkan oleh perusahaan terkemuka Anthropic.

Mengenal Claude AI dan Pentingnya Bug Bounty

Claude AI adalah asisten kecerdasan buatan canggih yang dikembangkan oleh Anthropic, dirancang untuk berbagai aplikasi mulai dari penulisan hingga analisis data. Seiring dengan peningkatan penggunaan AI, keamanan sistemnya menjadi sangat krusial. Program bug bounty, seperti yang diselenggarakan oleh Anthropic melalui platform HackerOne, adalah inisiatif penting yang mendorong peneliti keamanan independen untuk menemukan dan melaporkan kerentanan secara bertanggung jawab. Ini membantu perusahaan meningkatkan pertahanan mereka sebelum celah tersebut dieksploitasi oleh pihak tidak bertanggung jawab.

Detail Kerentanan di Claude Code Action

Kerentanan yang ditemukan Arga berpusat pada fitur "Claude Code Action". Fitur ini memungkinkan Claude AI untuk berinteraksi dalam alur kerja pengembangan perangkat lunak, khususnya melalui GitHub Issue dan Pull Request. Arga menemukan bahwa dalam kondisi tertentu, mekanisme perlindungan yang seharusnya menjaga konsistensi informasi pada Issue dan Pull Request dapat terlewati. Hal ini berpotensi menyebabkan sistem AI membaca informasi yang telah berubah setelah proses pemeriksaan awal dilakukan, membuka celah untuk manipulasi data atau informasi.

Laporan teknis yang disusun Arga mencakup ringkasan kerentanan, analisis dampak, langkah reproduksi yang jelas, serta bukti pendukung. Setelah melalui proses verifikasi oleh tim Anthropic, laporan tersebut dinyatakan valid dengan tingkat keparahan tinggi dan memperoleh skor risiko 7.7. Atas kontribusi berharga ini, Arga diganjar hadiah bug bounty sebesar US$3.700, yang setara dengan sekitar Rp66 juta.

Perjalanan Inspiratif dari Teknik Mesin ke Keamanan Siber

Perjalanan Arga di dunia teknologi sangat inspiratif. Ia bukanlah lulusan SMK dari jurusan komputer, melainkan dari jurusan Teknik Mesin. Ketertarikannya pada teknologi dan keamanan siber tumbuh sejak SMP, mendorongnya untuk belajar secara otodidak. Ia mendalami pemrograman, eksplorasi kode sumber, pengujian aplikasi, dan aktif berpartisipasi dalam berbagai program bug bounty internasional.

Latar belakang yang berbeda ini tidak menghalangi Arga untuk terus belajar dan berprestasi. Kisahnya menunjukkan bahwa dedikasi, rasa ingin tahu, dan kemauan untuk terus mengembangkan diri adalah kunci utama dalam membangun kompetensi di bidang keamanan siber, terlepas dari latar belakang pendidikan formal.

Peran Manusia dalam Verifikasi Keamanan AI

Dalam risetnya, Arga memang memanfaatkan teknologi AI untuk mempercepat analisis dan membangun hipotesis awal. Namun, ia menekankan bahwa proses pengujian, verifikasi, dan pembuktian kerentanan tetap harus dilakukan secara manual oleh manusia. Menurutnya, mengandalkan AI tanpa pemahaman teknis yang memadai dapat menghasilkan laporan yang tidak akurat. Oleh karena itu, kemampuan analisis kritis dan pemahaman mendalam tentang cara kerja sistem tetap menjadi elemen vital dalam penelitian keamanan siber.

Prestasi ini menambah daftar rekam jejak Arga sebagai peneliti keamanan. Sebelumnya, ia juga pernah menemukan sejumlah kerentanan pada proyek open-source seperti curl dan libcurl, beberapa di antaranya bahkan memperoleh identitas CVE dan tercatat dalam basis data kerentanan resmi.

Kesimpulan: Talenta Indonesia Mampu Bersaing Global

Keberhasilan Muhamad Arga Reksapati adalah bukti nyata bahwa talenta muda Indonesia memiliki kapasitas untuk bersaing dan berkontribusi secara global dalam menjaga keamanan teknologi. Kisah ini juga membawa pesan penting bagi generasi muda: keterbatasan fasilitas atau perbedaan latar belakang pendidikan bukanlah penghalang untuk terus belajar dan berinovasi. Dengan semangat Merdeka Siber, mari terus kembangkan kemampuan dan jadikan Indonesia garda terdepan keamanan siber dunia.

Tingkatkan skill keamanan siber Anda

Gabung Bootcamp Online Merdeka Siber, dapatkan sertifikat resmi.

Daftar Sekarang