Potensi Kerugian Serangan Siber Indonesia Tembus Rp 111 Triliun pada 2026
Bank Indonesia memperkirakan potensi kerugian ekonomi akibat serangan siber dapat mencapai Rp 111 triliun pada 2026. Simak rincian strategi BI untuk mengantisipasinya.

Ancaman Siber dan Stabilitas Ekonomi Nasional
Keamanan siber kini bukan lagi sekadar isu teknis TI, melainkan faktor penentu stabilitas ekonomi nasional. Bank Indonesia (BI) memperkirakan potensi kerugian ekonomi di Indonesia akibat serangan siber dapat menyentuh angka fantastis Rp 111 triliun pada tahun 2026 jika tidak dimitigasi secara optimal.
Lompatan pesat dalam digitalisasi layanan keuangan yang tidak diimbangi dengan pertahanan siber memadai membuka celah eksploitasi bagi para pelaku kejahatan. Finansial dan ekosistem pembayaran elektronik menjadi target utama lantaran nilai perputarannya yang sangat besar.
Faktor Pendorong Lonjakan Risiko Siber
Peningkatan potensi kerugian ini dipicu oleh beberapa pemicu utama. Pertama, pesatnya adopsi transaksi digital seperti QRIS, internet banking, dan dompet digital yang memperluas area serangan (attack surface). Kedua, tingginya ketergantungan pada penyedia jasa pihak ketiga (third-party vendors) yang kerap menjadi pintu masuk bagi peretas.
Selain itu, teknik serangan yang dilancarkan peretas semakin canggih. Penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat skema phishing otomatis serta serangan ransomware berskala besar kini makin marak menyasar lembaga keuangan.
Lima Pilar Strategi Keamanan Siber Bank Indonesia
Untuk membendung ancaman tersebut, Bank Indonesia menyiapkan Kerangka Kerja Keamanan Siber Terintegrasi. Strategi ini dirancang untuk memastikan ekosistem pembayaran nasional tetap aman dan tangguh dari gangguan.
- Penguatan Tata Kelola: Mendorong regulasi dan standar pertahanan siber yang ketat bagi lembaga keuangan.
- Peningkatan Manajemen Risiko: Mengidentifikasi kerentanan internal dan rantai pasok secara berkala.
- Mekanisme Kolaborasi: Membangun sinergi berbagi informasi ancaman siber (threat intelligence) antarlembaga.
- Uji Ketahanan (Stress Testing): Menguji kesiapan respons insiden melalui simulasi serangan nyata secara teratur.
- Peningkatan Kapasitas SDM: Memperkuat talenta siber dan literasi keamanan digital bagi karyawan serta masyarakat.
Langkah Antisipasi bagi Pelaku Industri dan Masyarakat
Menghadapi tingginya risiko siber, industri perbankan dan penyedia jasa pembayaran diimbau untuk tidak hanya berinvestasi pada teknologi, tetapi juga memperketat kontrol akses internal seperti Muti-Factor Authentication (MFA).
Masyarakat umum sebagai pengguna akhir juga memegang peran vital. Kesadaran untuk menjaga kerahasiaan OTP, tidak mengklik tautan mencurigakan, dan rutin memperbarui kata sandi menjadi benteng pertahanan terdepan dalam menjaga data pribadi dan finansial.
Tingkatkan skill keamanan siber Anda
Gabung Bootcamp Online Merdeka Siber, dapatkan sertifikat resmi.
